Berkarya Bersama Semburart


Saya bersyukur, bertemu pasangan yang mencintai seni (juga saya :p).
Kami bahkan bertemu pertama kali di pameran (seni) fotografi seorang teman. 
Pertemuan kedua, Najma namanya, membawa sebuah prototype produk yang baru dikembangkannya. Mengeluh bingung mencari nama yang pas. Saya sok mengomentari fungsinya yang cocok buat saya, dan punya banyak ide serta peluang untuk menambahkan nilainya lebih dari yang ada waktu itu. Kemudian menawarkan membantu membuatkan logonya. Waktu itu saya lupa kalo saya introvert. Obrolan mengalir seperti sesama pencinta seni.
Kami mulai brainstorming nama. Dari sekian banyak nama, akhirnya kami mentok dan Najma nyeletuk, “kok semburat gini ya...” Otak saya terpantik. “Bukankah produk ini adalah solusi dari hal-hal yang berantakan (kalo kata orang Jawa semburat)?” “Kita pakai nama ini saja! Ini produk artsy, jadi kita olah namanya jadi Semburart!” Motor saya rem mendadak, kami berbalik arah ke gerai makan 24 jam dan menghajar sketsa untuk logonya.

Event pertama @semburart di Pasar-pasaran, 2015. © Team Pasar-pasaran.

Logo tereksekusi hari esoknya, lalu produksi sample dimulai. October 2015, produk pertama pencil roll Semburart mulai dipasarkan ke teman-teman dekat. Kesempatan besar datang ketika ada peluang ikutan Pasar-Pasaran di Art Zoo Ubud, Bulan Desember 2015. Event ini sangat bersejarah bagi Semburart. Produk pertama kami, pencil roll yang hanya 27 buah menyisakan 3 saja yang kami bawa pulang lagi. Tak hanya itu, para pembeli maupun yang hanya mampir banyak sekali memberikan respon dan saran positif yang membakar semangat kami.
Kami mulai dengan mendesain motif baru yang akan jadi karakter Semburart. Sebelumnya memang hanya paduan kain linen dan motif yang biasa didapat di toko tekstil. Sketsa desain motif etnik yang jadi koleksi official dikerjakan oleh Dik Najma. Saya, yang waktu itu masih jadi penyeduh kopi hanya jadi tukang eksekusi saja. Tahun berikutnya, kami menambah koleksi baru yang terinspirasi dari kegemaran kita bertualang seni; "Artventure". 

2017, saya gagal dengan warung kopi yang pernah ceritakan di tulisan terdahulu. Memang benar kata pepatah; kegagalan itu bukan akhir dari semuanya. Sebulan setelah itu, saya menikah. Najma dan saya berkomitmen juga untuk lebih fokus mengurus Semburart. Lalu koleksi ketiga lahir, "Pop Pattern" yang terinspirasi dari dinamisnya budaya pop. 

Lika-liku bekerja bersama sangat nyata, tapi juga seru. Rumah tangga kami mungkin saja berbeda dengan pasangan yang salah satu atau keduanya bekerja di bidang yang berbeda. Tidak sering bertemu, dan punya kesibukan serta cerita masing-masing. Sementara cerita kami sama; bangun hingga tidur lagi kami lalui sama-sama. Awalnya, kami bisa membahas strategi promosi hingga dini hari. Atau, baru bangun sudah menata bahan produksi. Sampai akhirnya, kami mulai membenahi manajemen layaknya partner. Semua to-do list tercatat dan bisa diakses bersama. Proses yang terstruktur, hingga jam kerja yang jelas, meski fleksibel.

Akhir tahun ini juga jadi titik balik kami untuk belajar berbisnis dan memperbaiki apa yang jadi kekurangan di Semburart. Berkesempatan belajar langsung dengan orang yang berpengalaman, mengikuti kompetisi dari salah satu marketplace terbesar di Indonesia (meski tidak lolos ke tahap selanjutnya). Bertemu dengan banyak teman baru, dan banyak hal yang tidak bisa diceritakan satu persatu.

Yang jelas, kami bersyukur dan sangat berterima kasih atas dukungan teman-teman selama tiga tahun terakhir. Melihat dukungan teman-teman yang ternyata begitu besar, membuat kami yakin bahwa masih banyak pencinta seni. Makin banyak orang yang tergerak karena karya seni. Dan ingin meyakinkan semua bahwa seni punya kekuatan untuk menjadikan dunia lebih indah lagi. 

Mari berkarya bersama!

Comments

Popular Posts