Jogja Suangar

Handlettering sehari sebelum packing. Diambil dari instagram @lugugumilar


"Apa satu kata untuk Jogja?" Tanya Ayik. "Slow." Jawab saya.

Pertanyaan itu muncul setelah menyantap bebek goreng Simpatik di Pasar Kranggan sebelum kami bertolak menuju Stasiun Tugu. Sengaja jadi pembuka cerita disini karena ada setiap kesan di akhir perjumpaan. Dan kesan ini seperti terbentuk di alam bawah sadar kita. Oke. Katakanlah saya berlebihan.

Tidak ada live sketch di perjalanan kali ini. Lebih banyak nyetir motor, lebih banyak dengar cerita, lebih banyak menikmati Jogja. Libur menyeduh, tapi ndak libur ngopi. Ayik dan Hendro yang juga penggemar kopi mengajak ke Wiki Kopi setelah mampir ke Klinik Kopi dan tutup. Mas Tauhid dengan segudang ceritanya membuat kesederhanaan Wiki Kopi jadi punya kesan sendiri. Saya? jadi pendengar aja, seperti biasa. Bahkan sehari sebelumnya, saya juga seperti orang ndak tahu apa-apa saat mampir ke Ruang Seduh, disuruh mencet tombol "on" sebuah grinder mahal dan alat seduh modern yang sedang ngetrend.


Rekam gambar oleh @najmasmeer

Padahal nawaitunya, kami hellBoys dan Denpasar Resign Club ke Jogja untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sejawat yang dipinang Cah Londo, Hesti. Tapi tak hanya pijat, niat juga ada plus-plusnya. Banyak kepala, banyak misi. Berangkat bebarengan setelah Helmen Coffee menutup pintu di tanggal 3 dini hari, bertolak ke Pelabuhan Gilimanuk menaiki mobil Pak Ponyok. Disambung ombang-ambing kapal ferry seperti biasa di Selat Bali hingga Pelabuhan Ketapang. Kereta Sri Tanjung dari Banyuwangi Baru - Lempuyangan juga melesat seperti seharusnya. Biasa saja.

Ke selo-an di Jogja berawal dari hari pertama ketika Ayik menyodorkan Peta "Yogyakarta Contemporary Art Map". Mayan, biar ga ke Malioboro melulu. Dan mulailah kami berdua naik matic menuju beberapa gallery yang ada di peta. 

Kami sampai di Lir, tapi masih tutup. Jadinya cuma mampir ngaso sampai lapar. Lanjut nyetir ke daerah Jl. Taman Siswa, dan berhasil tergoda sama papan reklame warung Lotek! Karena sudah di daerah situ, mampirlah kita ke tempat terdekat di peta. Ada HONFablab yang tersohor itu. Padahal awalnya saya ndak tahu mau ngapain, sampai2 perkenalan dengan Mas Tommy diawali dengan pertanyaan tentang printing kain. Oke, Fabrication is not a fabric printing. Gagal guyon.


Rekam gambar oleh @najmasmeer

Kami yang ingin menimba ilmu cetak gagal ke Studio Krack! karena tutup. Ke Langgeng Art Foundation juga gitu, meski ndak tutup tapi sedang ndak ada pameran. Cuma sisa-sisa pameran yang setelah saya cari tahu ternyata Jogja Agro Pop. Dan ada lukisan Gus Dur yang tidak bisa saya temukan identitas pelukisnya sampai saat ini. Haha.

Oke. Kami menutup peta fisik dan beralih ke peta digital untuk menemui teman lama Najma yang lain, Nian, di dekat ISI Jogja. Dan menemukan mural Jogja Ora Didol dekat Radio Buku. Lalu kembali ke kota cuma pengen tahu bentuk Kandang Menjangan. Biarin.


Rekam gambar oleh @najmasmeer

Muter-muter Jogja dalam artian sebenarnya adalah melewati Ring Road. Menghitamkan tangan dan merekam aroma jalanan di baju. Sempat-sempatnya juga mblakrak ke Kali Biru, wisata (foto) alam yang jadi tempat dedek-dedek rekreasi fotografi. Apalah bahasa saya ini.   

Terima kasih buat Hendro dan Ayik, duo arsitek teman lama Najma yang sudah bersedia antar-jemput, menampung kami bahkan meminjamkan motornya buat muter-muter Jogja. Juga mas-mas sangar di bengkel isi angin yang ketika saya tanya ongkosnya bilang "Terserah, mas!". Asli, Jogja iki jan suangar :))

0 komentar:

Post a Comment