Sabalana Trip with Tropic Princess

Photo taken by Danu Andriyanto
"There’s a big, a big hard sun beating on the big people in the big hard world” - Hard Sun by Eddie Vedder

Kali ini, kesempatan jalan-jalan datang dari Mas Herman dari Indonesia Tropic Cruises yang mengajak saya, Bali Outbound Community, dan teman-teman lain ber-16 berlayar dengan Tropic Princess, sebuah kapal pinisi, menuju kepulauan Sabalana di laut Flores. Perjalanan laut pertama saya dengan kapal pinisi, sekaligus langkah awal impian saya menjelajahi bagian Timur Indonesia.

Rombongan dari Bali sebanyak 7 orang berangkat hari Sabtu malam, setelah mampir di konser launching album Navicula, Love Bomb, dengan membawa tas ransel selayaknya nonton Woodstock. Setelahnya, kami menuju Pelabuhan Padang Bai dengan mengendarai 5 motor beriringan untuk menyeberang dengan kapal laut menuju Lombok. Kami sampai di Senggigi, tempat Mas Herman sekitar jam 7 pagi. Disambut senyum hangat, pancake, dan kopi, kami antusias menyambut perjalanan kali ini.


Photo courtesy of Iwan Setiawan
Dari Senggigi, kami menuju Labuhan Lombok sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil. Sesampainya di Labuhan Lombok, Tropic Princess sudah menanti dengan anggun. Meski ada sedikit masalah pada saat keberangkatan yang membuat kami terlambat, tapi sesampainya di tujuan pertama, Gili Kondo, keseruan petualangan sudah meningkat. Kami bermalam di Gili Kondo, menyalakan api unggun, dan tidur beratap langit ribuan bintang. Ombak tenang dan angin sepoi menggoda saya untuk tidur di geladak atas. Sampai matahari pagi menyapa dari sela pelampung di sebelah saya yang sudah seperti jendela kost-kostan saja.

Pagi hari dihabiskan dengan snorkeling dan menjelajah di sekitar Gili Kondo. Malamnya lanjut berlayar menuju Sabalana, sekitar 45 mil arah Tenggara. Perjalanan malam sedikit mengagetkan saya. Yang saya bayangkan, berlayar dengan cuaca bagus di malam hari adalah bintang berhamburan sepanjang perjalanan. Tapi ternyata bayangan saya meleset. Seperti pepatah, pelaut handal tidak pernah lahir dari ombak yang tenang. Meski saya bukan pelaut malam itu saya tidur dengan goyangan kapal dengan ombak setinggi 3 meter. Sempat gerimis, sehingga saya harus turun ke geladak depan dengan wajah rutin dibasahi ombak sepanjang malam.

Photo taken by Danu Andriyanto
Beberapa teman yang baru pertama berlayar sempat jackpot. Saya masih bisa bertahan sampai kapal bersandar dan masih diterpa ombak kencang, saya berlarian kesana-kemari mengambil peralatan snorkeling dengan oleng, tiba-tiba iseng mengeluarkan sedikit sarapan tadi pagi. Lumayan, agar ikan-ikan bisa ikut sarapan juga. Atol kecil berisi tumpukan karang jadi taman bermain kami pagi itu. Beberapa menyempatkan snorkeling dan keliling pulau-pulau kecil di sekitarnya. Setelah makan siang kami lanjut lagi ke Pulau Satengar dan mendirikan tenda. Hari makin gelap, bintang bermunculan. Api unggun dinyalakan dan perayaan sederhana berupa ikan bakar dan goreng kami nikmati bersama-sama. Malamnya, saya tidur yenyak beratapkan jutaan bintang, beralaskan pasir putih.

Pagi tanpa berisik dan polusi khas perkotaan, tapi deburan ombak dan kicauan beberapa burung membangunkan saya. Teman-teman yang lain sudah sibuk mengabadikan terbitnya matahari dari berbagai sudut. Beberapa kembali berendam di pantai, dan yang lain sibuk beberes.

Photo taken by Danu Andriyanto
Sekoci datang mengangkut kami beberapa kali. Setelah rombongan lengkap, kapal kemudian berangkat menuju Pulau Moyo. Kami bersandar di Labuhan Haji sekitar pukul 4 sore. Tujuan selanjutnya adalah air terjun kecil berjarak sekitar 30 menit ditempuh dengan ojek. Jalanan di sini mengalahkan perbaikan / pengrusakan jalan di Kota Denpasar. Masyarakat di sana hanya menggunakan motor yang sudah dimodifikasi sebagai alat transportasi utama.

Air tawar sungguh sesuatu yang kami idam-idamkan selama berada di kapal, maka saat bertemu air terjun, kami kembali seperti anak-anak bermain sepuasnya. Hari makin gelap, kami kembali ke kapal untuk bermalam. Paginya kami menuju titik paling keren untuk snorkeling. Konon katanya, Princess Diana pernah snorkeling di situ. Saya mengikuti Tom, seorang instruktur diving ke titik paling jauh dan banyak ikannya. Meski kelelahan karena jauh, lokasi ini adalah lokasi snorkeling terbaik selama perjalanan kali ini.

Photo taken by Viar
Persinggahan terakhir sebelum kembali ke Lombok adalah Pulau Bedil / Pulau Bola. Sebuah pulau mungil yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Pulau ini ternyata berpenghuni sepasang suami istri. Bapak dan Ibu ini telah lama tinggal si situ dan mendapat bantuan dari agen yang memanfaatkan pulau ini sebagai objek wisata. Setelah sempat snorkeling dan menikmati kelapa muda, kami berlayar kembali.

Perjalanan pulang pun kembali memacu adrenalin. Ombak di Selat Alas yang cukup tinggi seolah mengucapkan terima kasih dan perpisahan kepada kami yang hampir seminggu di lautan. Bahkan air sempat masuk ke geladak belakang ketika kami sedang menikmati makan malam. Ketegangan mulai mereda ketika akhirnya kami melihat pelabuhan. Kapal feri besar yang melintas di depan pun ikut memberi salam terakhir pada kami sebelum berlabuh. Pelayaran penuh petualangan ini kami akhiri sekitar pukul 9 malam.

Setelah kembali ke Senggigi dan bermalam, kami sempat menikmati sate rembige dan bulayak khas Lombok keesokan harinya. Ketika nongkrong di Taman Bolpen Standard, kami sempat didatangi beberapa SPG yang menawarkan paket Party on Boat. Kami kompak tertawa karena baru saja menginjak daratan beberapa jam dan masih oleng sudah ada yang menawarkan berlayar lagi. Kami kembali sampai di Denpasar pada pukul 5 pagi. Beristirahat untuk petualangan selanjutnya.


Photo courtesy of Iwan Setiawan

0 komentar:

Post a Comment