Road Trip 2014 - Part IV, Pulang.

"Maafkan anakmu, ku baru sempat pulang. Ku terlalu sibuk taklukan dunia. Namun tak ku lupa nasehatmu untukku agar ku selalu "be the best of the best", she said" - Edane, Comin' Down
Photo by: @danuandri
Stasiun Lempuyangan, Jogja. Kereta yang akan kami tumpangi adalah Pramex, seharga Rp. 6500. Meski setelah kereta datang, saya sempat tidak yakin karena gerbong kereta bertulistak KA Sri Wedari. Bahkan di dalam gerbong, tempat duduknya nyaman dan luas. Tapi setelah memastikan dengan petugas, maka yang harus dipikirkan selanjutnya adalah di stasiun mana kami harus berhenti.

Andri memang ingin memberi kejutan ke Mas Rohman, dedengkot Bali Outbound yang kini tinggal di Solo dengan tidak memberitahu sebalumnya jika ingin mampir ke Solo. Setelah bertanya ke petugas, kami dianjurkan turun di Stasiun Purwosari. Ini mungkin efek seharian keliling, atau euphoria LLD kemarin, jadinya kereta cepet banget meluncurnya, tiba-tiba sudah sampai di stasiun.

Kami lantas turun dan sejenak mengistirahatkan perasaan. Mas Rohman yang akhirnya diberi kabar, datang menjemput. Karena hanya ada satu motor, gerimis mengundang, dan barang bawaan mengancam, maka akhirnya kami naik taxi. Taxi bukan sedan ber-argo, setelah kami masuk ke mobil langsung tancap gas meninggalkan Mas Rohman dengan motornya, padahal kami lupa alamat rumahnya. Pak sopir yang mungkin lelah, dan Andri yang kemudian ingat dimana rumahnya lalu sedikit lega. Ketika hendak membayar, pak sopir berkata bahwa tarif minimal Rp. 30.000, tidak sama dengan yang ada di argo sebesar Rp. 15.000. Saya cuma diam mencari tulisan yang menginformasikan tarif minimal itu, sementara Andri berusaha mengingatkan pak sopir untuk melihat lagi argo-nya. Tidak ada info tertulis mengenai tarif minimal itu, dan kami harus tetap membayar Rp. 30.000 lalu turun karena sudah lelah.

Di rumah Mas Rohman, istrinya cekatan menyeduh kopi sachet dan menghidangkannya. Iya, akhirnya saya minum kopi sachet, karena saya bertamu. Ngopi sambil ngobrol di teras rumah itu memang menyenangkan. Rasa lelah keliling seharian seakan tidak berhasil membuat kami kehabisan bahan pembicaraan. Sampai tengah malam akhirnya harus memaksa kami tidur agar besok pagi saya bisa berangkat ke Salatiga.

Paginya, keluarga Mas Rohman yang baik menghidangkan nasi liwet dan teh hangat sebelum saya diantar ke pangkalan bus menuju Salatiga. Menu nikmat dan suasana kekeluargaan yang hanya bisa saya balas dengan doa terbaik untuk mereka. Setelah membuat janji dengan Mas Ayok, sang pemilik SAPU, sebuah produsen barang upcycle dari ban bekas, saya berangkat lagi ke Salatiga. Bus bertarif Rp. 10.000,- pun melayangkan kenangan saya kembali ke beberapa hari yang lalu ketika menaiki bus rombongan LLD menuju Salatiga. 
Bahkan, saya turun di pasar sapi, tempat yang kami lewati sebelum ke lokasi LLD, sekaligus nickname ibu founder Akademi Berbagi, mbak Ainun. Setelah turun, Mas Ayok datang menjemput dan kami langsung menuju workshop di Desa Tetep Gambir. Tempatnya sejuk, joglonya asik, dan orang-orangnya sungguh ramah. Cerita soal SAPU akan saya bahas di tulisan terpisah. Setelah ngobrol banyak dan menyelesaikan urusan, saya bahkan diantar oleh Mas Ayok dan istri kembali ke Solo, karena mereka juga sekalian akan belanja bahan baku ke pasar.



Saya sempat diajak mampir ke Soto Boyolali langganan mereka. Soto plus sate otak berhasil menghangatkan badan ditengah hujan deras yang menguyur siang itu. Sesampainya di Solo, saya turun di halte bus Trans Solo koridor satu utuk lanjut ke RS tempat dimana Andri menjenguk saudaranya. Dari RS, Anis yang juga akan ikut kami ke Mojokerto datang menjemput dengan temannya yang akan mengatar kami.

Setelah kami kembali ke rumah Mas Rohman untuk mengambil barang-barang, tujuan selanjutnya adalah Mojokerto, via Stasiun Balapan. Kali ini tidak dengan soundtrack dari Didi Kempot. Pukul 5 sore, kereta berangkat menuju Mojokerto. Beberapa jam perjalanan saya isi dengan tidur. Bagaimana tidak, jadwal yang seharusnya sampai di Mojokerto pukul 9 malam, terlambat sampai pukul 11 malam.

Di Mojokerto, turun dari kereta, eh, ketemu Mbak Wina dari Akber Surabaya yang ternyata naik kereta yang sama hanya berbeda gerbong. Dan reaksi 'ealah' pun tak terelakkan. Ifan, saudara seperguruan Bali Ourbound sudah menanti di pintu keluar, menawarkan kami becak. Haha, dia bercanda. Kami naik mobilnya menuju Warung Soto yang katanya paling enak se-Mojokerto. Soto lagi? ah, yang penting makan.

Menginap di rumah Ifan dengan cuaca mendung dan sesekali hujan sungguh bikin nyaman. Apalagi Ifan juga pecinta kopi, jadi kopi blend dari salah satu roaster terkenal di Bandung disajikan 3 kali sehari dan bikin kami enggan keluar rumah. Kami hanya sempat keluar waktu makan malam. Haha, dua hari yang menyenangkan.

Waktunya pulang ke Batu. Dari Mojokerto, jalur favorit ke Batu adalah via Pacet-Cangar. Normalnya perjalanan hanya 1,5 jam saja, dengan jalan berkelok-kelok naik turun bukit. Hanya perlu penunjuk di jalanan kota, selanjutnya tinggal satu jalan saja.

Kami sempat mampir ke Omah Munir, di daerah Desa Sidomulyo. Berusaha melawan lupa dan memahami bahwa negara ini tidak hanya butuh orang-orang yang hanya bisa menginspirasi, tapi juga yang bisa mengajak sama-sama berjuang demi kehidupan yang lebih baik.



Oke, sekarang saya sudah ada di rumah. Teman-teman sudah kembali pulang. Orang-orang baik yang saya temui selama perjalanan ini juga sedang melanjutkan hidupnya. Lalu, apa yang akan saya lakukan selanjutnya?


Sebelum ini, banyak diskusi dan komentar yang membahas tentang mengapa melakukan perjalanan jika berujung pada pulang? Yang saya alami ini mungkin bisa jadi salah satu jawaban. Mungkin banyak orang merasa dirinya hebat. Sanggup bertahan di rimba belantara, hutan-hutan beton yang memberikan kenyamanan dan pelayanan istimewa, manusia dengan semangat menggebu-gebu.


Mungkin ada yang berpikir bahwa rumah, atau tempat dimanapun orang menyebutnya pulang, adalah akhir dari setiap perjalanan, atau sebuah kekalahan. Saya tidak menganggapnya demikian. Rumah, dimana orangtua tinggal adalah semacam sumber energi. Apa yang didapatkan ketika jauh dari rumah mungkin lebih banyak, lebih keren, dan lebih bisa membuatmu menjadi hebat. Tapi apakah lantas menjadikanmu lebih baik?


Di luar sana memang banyak orang baik. Banyak energi positif. Mungkin kamu juga banyak berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Tapi apakah orang-orang terdekatmu sudah kamu bagi sedikit kebahagiaan itu? Mungkin kamu banyak mengajak anak-anak yang kurang beruntung bermain dan belajar, tapi apakah kamu sudah pernah menggendong keponakanmu?




Kamu mungkin merasa beruntung dan bahagia bisa jalan-jalan ke mana saja, tapi tahukah jika bapak dan ibumu akan lebih bahagia jika kamu bisa menemaninya jalan kaki sambil menikmati hawa asri pegunungan?


Pulang adalah mengisi kembali kesederhanaan yang mungkin terlupakan. Memberimu ruang kontemplasi, agar kamu ingat pernah dibantu belajar berjalan. Dan mungkin, pulang adalah tempat dimana kamu mengawali lagi kehidupanmu.


Crut!

0 komentar:

Post a Comment