Road Trip 2014 - Part III

"I lean against the wind, pretend that i am weightless and in this moment i am happy... I wish you were here" - Incubus, Wish You Were Here
Jogja dengan segala kenyamanannya masih menyisakan abu vulkanik Kelud. Parkiran Malioboro sore itu masih penuh debu, namun keramahan teman-teman yang dengan sigap menyiapkan segala transportasi dan akomodasi saya acungi lima jempol.

Saya, Andri dan Mas Azan yang barang bawaannya sering disangka mau naik gunung kemudian dimasukkan mobil yang langsung diantar ke Edu Hostel, tempat dimana kami menginap. Suasana di mobil dari malioboro sampai ke hostel seperti di persawahan. Hening. Mungkin mereka lelah. Di hostel, saya sekamar dengan lima pemuda kebanggaan bangsa, searah jarum jam adalah Tendi, Yudi, Andri, Zaky, dan Boteell.

Satu kamar berisi tiga pasang ranjang susun, alias berkapasitas enam orang. Kamar mandi dengan dua shower, dan satu closet yang nyempil di pojokan. Saya gak banyak protes. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mandi lalu mencuci karena persediaan mulai menipis. Setelahnya, saya dan Andri meninggalkan teman-teman karena harus ngopi. Sakau kali ini sudah cukup membuat kami harus naik taxi jauh2 ke daerah Palagan dari hostel di kawasan Malioboro.


Epic Coffee, kedai kopi yang saya masukkan kedalam daftar tempat yang harus dikunjungi jika ke Jogja. Sebenarnya tempat ini kurang begitu cocok dibilang kedai, karena tempatnya luas sekali. Pemiliknya yang kabarnya juga pengusaha furniture membuka kedainya di warehouse bebarengan dengan pajangan furniture. Awalnya saya grogi ketika pertama masuk, dan ingin duduk di bar dengan berbagai macam alat seduh yang melambai-lambai ingin diperhatikan. Tapi apa daya, kali ini saya cukup lelah. Hanya ingin ngopi dan nge-charge, jare urip kuwi mung nunut nge-charge.

Kami memilih duduk di beranda dekat pekarangan yang nyaman, biar seperti di rumah. Menunggu Anis dan Mas Alex, teman kami yang sudah sempat bertemu di Bali sebelumnya. Buku menu yang unik dengan sampul lempeng metal secepatnya saya buka. Halaman Single Origin Coffee, mata saya tertuju pada Baroko Enrekang, dengan keterangan di bawahnya; sweet caramel, floral, fruity, medium body and brightness, good after taste. Saya percaya hanya beberapa kedai kopi dengan sajian specialty coffee yang menuliskan keterangan karakter kopi di menu-nya. Salut untuk kedai kopi yang memberi pengetahuan kepada pengunjung kedai-nya. Selain itu, meski di bagian bawah halaman buku menu menunjukkan alat-alat metode seduh kopi, mas-mas pelayannya juga mengerti bagaimana kopi yang dipilih cocok dengan metode seduh yang pas. 

Anis datang, dan tak lama kemudian Mas Alex. Obrolan kami masih sekitar apa yang didapat dari LLD, dan hubungannya dengan apa yang sedang dan akan kami lakukan. Di sesi sharing ini, energi positif kembali memancar. Untung tidak sampai berubah menjadi super saiyan.



Sementara itu, telpon genggam saya berdering tanda pesan singkat masuk. Dadan memberi kabar bahwa teman-teman yang masih ada di Jogja sedang berkumpul. Maka kami pun beranjak. Tidak langsung ke tempat teman-teman, makan dulu lah, ngelih. Baru setelah makan kami menuju Angkringan Kopi Joss. Iya, beberapa hari lalu sudah ngopi joss, sekarang cuma ngangkring dan ngobrol saja. Tapi sungguh, teman-teman ini seperti tidak punya rasa lelah. Obrolan berlanjut, meski santai, tentang pengalaman-pengalaman mereka mengelola kelas di masing-masing kota. Seru, saling berbagi cerita, pengalaman, masukan, yang saya yakin menambah semangat kami berbagi.

Sudah tengah malam, dan wajah-wajah ngantuk mulai menampakkan diri satu persatu. Kami kembali menuju hostel, jalan kaki. Meski cuma 2,2 km saya jadi teringat sekitar delapan tahun lalu pernah jalan malam di Jogja sejauh lebih dari 7 km dari Utara ke Selatan. Tapi jalan kaki bareng teman-teman memang selalu menyenangkan.

Pagi di hostel, Tendi dan Boteell harus tereliminasi terlebih dahulu karena pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Samarinda berkawan dengan ayam jago yang bangun pagi sekali. Saya bangun dan memberi salam kepada mereka; sampai bertemu ke(m)bali. Dan saya lanjut tidur lagi. Beberapa jam kemudian saya lapar. Yudi dan Zaki yang juga lapar mengajak untuk makan. Rooftop hostel ini jadi tempat makan pagi paling asik, berkumpul dengan teman-teman dari kamar lain dan lanjut ngobrol lagi.

Setelah wareg saya kembali ke kamar. Saya capek tidur di kasur empuk. Jendela kamar yang menghadap ke perkampungan di bawah-nya menarik perhatian saya. Saya ambil sketchbook dan melakukan ritual seperti biasa.


Siang hari, kami checkout karena sudah janjian ketemu Andi, teman alumni Bali. Dulu, ngobrol sama Andi pasti sambil ngopi. Entah kopi bikinan saya sendiri, atau di cafe. Kami satu perguruan kalo soal kopi. Tapi siang itu Andi sedang sibuk mengurus keperluannya di kampus. Kami yang sudah tiba duluan di kawasan Prawirotaman sudah kelaparan. Akhirnya makan soto di warung soto, bukan di agen tour and travel.

As Coffee, tempat kami memadu janji bertemu, adalah cafe milik teman si Andi. Saya cuma memesan Americano, dengan kopi jawa. Beberapa sruput berlalu, Andi datang dan mengajak makan. Kami yang sudah makan cuma bisa nonton sambil mengelus perut ketika diajak ke Mie Ayam Tumini yang  katanya legendaris itu. Mie ayam, saya akan kembali. 

Jadwal kereta ke Solo paling malam jam delapan. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sama Andi, dan akhirnya saya kami ngemil sate klatak, kami menuju Stasiun Lempuyangan. Memesan tiket kereta api Pramex seharga Rp 6000, tujuan Solo. Iya, kami kembali ke Solo, tapi kali ini akan menemui dedengkot Balioutbound, Mas Rohman.

Energi yang menarik saya ke Jogja memang tidak sebesar yang saya rasakan di awal, meski banyak sekali yang saya peroleh dalam dua hari yang menyenangkan. Jogja layak untuk dikunjungi lagi. Solo dan cerita lain akan berlanjut di tulisan selanjutnya.

0 komentar:

Post a Comment