Road Trip 2014 - Part II

"...and the morning is for you, and the air is free... and the birds sing for you, and your positivity..." - Suede, Positivity.
Pagi hari yang penuh semangat dari kawasan Godean, saya berangkat mandi. Fahri, pak kepala sekolah Akber Bali sudah sampai di bandara Adi Sucipto dari jam 6 pagi. Saya dan Andri berangkat menyusulnya beberapa jam kemudian, sambil mengkritisi billboard-billboard Caleg yang nampaknya tidak terlalu dipedulikan oleh warganya. Yang menyenangkan di Jogja, baliho-baliho Caleg tidak terlalu banyak mengotori pohon dan tiang-tiang tepi jalan yang saya sadari karena adanya aksi Reresik Sampah Visual.

Fahri menunggu di Pujasera dengan segelas teh hangat yang diakui bukan miliknya. Setelah ngobrol tentang kebimbangan masa depannya, ternyata ada pesan yang memberitakan teman-teman dari Akber Jogja, Samarinda, Balikpapan, dan Pekanbaru sudah berkumpul di depan pintu keluar dan kami pun menghampiri mereka. Perkenalan berjalan lancar, dan suasana langsung mencair. Ngobrol kesana-kemari sambil menunggu bus jemputan datang.


Singkat cerita, bus datang dan kami semua masuk dan berangkat menuju Solo. Sesampainya di Solo, tak disangka sudah banyak yang menunggu di rumah Mas Imam. Setelah solat dan makan siang, kami kembali naik bus yang sekarang penuh dengan semangat teman-teman dari kota lain yang bergabung menuju Salatiga. Perjalanan hampir dua jam karena macet diisi dengan tidur atau saling ngobrol. Kebetulan saya duduk di belakang, di samping Zaky, mulai ngobrolin reklamasi di Bali sampai strategi promosi operator telepon seluler. Sesampainya di Pondok Remaja Salib putih, gerimis dan sedikit kabut menyambut kedatangan kami. Suasananya hampir mirip di Batu, cuma tidak terlalu dingin.


Dari awal kedatangan sampai hari-hari selanjutnya pastinya padat dengan acara perkenalan dan materi workshop yang istimewa. Saya memang membawa sketchbook kemana-mana, tapi apa daya, kesempatan untuk menyendiri dan mengabadikan suasana di sana tidak mungkin saya dapatkan. Jeda waktu coffee break atau makan lebih baik saya sempatkan mendengar cerita dari teman-teman baru. Seperti cerita Rossy saat backpacking dengan biaya minim, cerita Daniel sampai bisa berhenti merokok, dan cerita-cerita lain yang seru. Meski begitu, bukan berarti saya tidak berkarya. Dalam salah satu workshop di hari ke-dua, saya sempat membuat 'Dream Board' sederhana diatas kertas A3.





Menjelang sore, panitia sempat mengumumkan akan ada 'Mysterious Gift' semacam tukar kado yang dijalankan secara acak dengan mengambil nama 'korban' yang akan disembelih. Eh, bukan, dikasi kado. Sebelum mengambil gulungan kertas berisi nama, saya sempat terpikir antara akan memberi sketchbook yang sudah penuh dengan gambar selama setahun, atau membuatkan gambar baru untuk nama yang muncul di gulungan kertas yang saya ambil. Sketchbook yang sudah penuh tadi ada beberapa yang belum saya backup/dokumentasikan. Jadi, saya terpikir untuk membuatkan gambar baru. Masalahnya, jika nama yang muncul nanti adalah nama yang belum pernah saya kenal, bagaimana harus sembunyi-sembunyi membuat karikatur wajahnya? :D


Giliran ambil undian tiba. Teman-teman yang telah duluan ambil sibuk menyembunyikan ekspresi wajahnya. Ketika saya buka, kertas gulungan tersebut tidak ada nama! Hanya ada tulisan Dokumentasi I. Pergilah saya bertanya ke Mbak Dita, siapa sosok misterius dibalik tulisan itu. Ternyata yang dimaksud adalah Bang Roni. Untungnya Bang Roni sudah familiar karena sering mondar-mandir bawa kamera. Berarti PR selanjutnya adalah menggambar tanpa diketahui teman yang lain.


Hari sudah mulai petang, kambing dan sapi masuk ke kandang. Kami kembali berkumpul di ruang makan untuk menyantap hidangan. Setelahnya saat mengobrol di pelataran, beberapa teman sempat mendapat teguran, karena ramai membahas koneksi Wi-Fi dengan nama yang tidak pantas dituliskan. Kabarnya kayu api unggun sudah siap dibakar, dan kami semua turun ke lapangan. Beberapa duduk berkumpul demi mendapat kehangatan. Padahal, api bisa lebih menghangatkan daripada badan.


Mbak Ainun yang terlihat lelah maju ke depan sambil mengajak kami untuk sedikit rileks setelah berpikir seharian. Miko pun sempat menghibur dengan cerita dan tingkah lakunya. Dilanjutkan dengan acara menghaturkan 'Mysterious Gift' yang lebih lama dari jalannya api membakar kayu, serta hiburan lain berupa musik akustik dari tim yang tidak kenal lelah, malam itu jadi malam minggu istimewa, meskipun kabarnya banyak wanita disana sudah ada yang punya. Selesai api unggun, beberapa rekan memilih melanjutkan ngobrol karena besok sudah harus berpisah. Setelah menyampaikan amanah 'Mysterious Gift' ke Bang Roni, saya sempat keracunan udara segar dan mengemis amunisi ke Mbak Neny. Setelahnya, meski tidak terbiasa tidur di kasur empuk, saya memaksa memejamkan mata agar esoknya masih bisa tertawa.





Pagi terakhir di Salatiga, sesi diskusi dengan Roby Muhamad menutup acara LLD. Sesi foto-foto makin tidak terkontrol hari itu. Namun, energi positif yang dikumpulkan semenjak hari pertama di Salatiga sangat terasa. Orang-orang baik yang berkumpul di sana pasti berbahagia. Kepulangan ke kota masing-masing akan membawa cerita.


Perjalanan saya masih belum berhenti disini. Ada energi yang menarik saya ikut kembali ke Jogja setelah awalnya akan stay dulu di Salatiga. Tulisan ini masih akan bersambung :)


0 komentar:

Post a Comment