Road Trip 2014 - Part I

"The wheels just keep on turning, the drummers begin to drum, I don't know which way I'm going, I don't know what I've become."  - Coldplay, Til Kingdom Come
Namanya anak-anak pasti senang sekali bermain di luar rumah. Dulu bahkan ketika ibu memanggil untuk pulang, saya malah sembunyi di hutan bambu dekat jurang dan membuat orang rumah panik mencari-cari. Bersama teman-teman kecil, waktu itu saya sering menyusuri sungai, dari desa ke desa lain. Berangkat pagi, pulang sore hari dengan baju kotor berlumpur dan bau matahari pastinya.

Maret 2014 ini, saya meninggalkan kursi yang selama hampir tiga tahun saya duduki dengan nyaman. Tas carier biru kembali keluar dari kotak penyimpanan. Beberapa barang saya masukkan, dan saya berangkat. Tujuan awal adalah Salatiga, mengikuti Local Leaders' Day 2014, bertemu dengan teman-teman Akademi Berbagi dari seluruh Indonesia.

Dari Denpasar, saya dan Andri, naik bus Damri yang disediakan PT. KAI untuk diantar ke Stasiun Banyuwangi Baru. Sepanjang perjalanan ini, rasanya tidak seperti ketika pulang mudik ke Batu meski sama-sama naik bus. Saya yakin ini bukan soal kota tujuan, tapi soal kenapa akhirnya saya harus melakukan perjalanan ini. Seseorang sempat berkata apa yang saya lakukan semacam 'Spiritual Trip' ketika saya menyampaikan rencana perjalanan ini. Awalnya saya menunjukkan ekspresi tidak nyaman dengan kata-kata itu, tapi kemudian dia mengoreksi, bahwa spiritual tidak sama dengan religius. Setidaknya itu membuat saya bisa sedikit nyaman :D

Di kapal penyeberangan Gilimanuk - Ketapang, saya sempat pesan kopi. Saya sering naik kapal penyeberangan ini, tapi belum pernah sama sekali memesan kopi. Akhirnya ini kali pertama saya beli kopi. Sirup kopi tepatnya, karena kopi sachet+gula diseduh dengan air panas di gelas plastik kecil, sehingga rasanya manis sekali.

Bangku kosong dan penumpang yang sedang beristirahat menunggu kereta datang.

Di Stasiun Banyuwangi Baru, kami sempat beristirahat dan makan rawon di kantin. Sebagai penggemar rawon dengan bumbu kluwak yang kental, rawon di sini rasanya biasa saja. Sekitar jam 10 malam kami lanjut menaiki kereta api Mutiara Timur menuju Surabaya. Gerbong sepi dan kursi nyaman lengkap dengan sepoi angin mesin pendingin beraroma kabun apel seakan membangkitkan rasa kantuk. Setelah mengakrabkan diri dengan kursi, petugas datang menyerahkan bantal. Dan tanpa perlu kode lagi, beberapa menit kemudian kami langsung terlelap. Sampai negara api kemudian mengirimkan petugas pemeriksaan tiket sekitar jam 12 malam. Konsentrasi buyar, ternyata kami salah naik gerbong. Belum juga nyawa terkumpul penuh, petugas yang lain datang menghaturkan dua lembar tiket bertuliskan 'Persewaan Bantal Rp 5.000,-' Mau tidak mau, bantal yang sudah menempel manja di kepala kami harus bayar.



Sesampainya di Stasiun Surabaya Gubeng jam 5 pagi, kami istirahat di depan stasiun. Pagi itu riuh sekali dengan remaja-remaja dari salah satu sekolah di Jawa Barat, yang kabarnya akan kembali setelah berlibur di Bali. Saya mendengarnya dari obrolan bapak-bapak yang sebelumnya duduk di ruang tunggu bersama mereka. Kereta Sancaka Pagi datang, kami pun berangkat menuju Stasiun Yogyakarta. Sekitar lima jam perjalanan naik kereta, akhirnya kami sampai di Yogyakarta! Perjalanan naik kereta api ini memang bukan yang pertama, tapi bisa jadi yang terlama.

K.A Sancaka Pagi menuju Yogyakarta
Di Yogyakarta, kami dijemput oleh Anis, adiknya Andri dan temannya, kemudian menuju kedai kopi si sekitaran Gejayan. Kedai ini spesial espresso dan americano, ya akhirnya saya pesan kopi Linthong saja, karena sudah sakau berjam-jam sejak minum sirup kopi. Malamnya kami lanjut ke angkringan kopi joss untuk syarat kedatangan di kota pelajar ini. Tengah malam dan sudah mulai lelah, kami kembali ke daerah Godean untuk menginap dan bersiap besok pagi bertemu teman-teman Akber Jogja dan kota lain untuk berangkat ke Salatiga.

Bersambung...

1 comment:

  1. Ditunggu loh live story tellernya..... ayo2 ada di mana sekarang nih?

    ReplyDelete