Talk about Design: Flexible




Masih dalam suasana tahun baru. Kebanyakan blogger menulis "Postingan perdana tahun 2014". Di media sosial banyak dibicarakan juga soal pro kontra tentang berbagi resolusi. Tren mainstream seperti ini bukan berarti buruk. Idealisme juga tidak selamanya baik. Kali ini saya membahas kaitannya dengan desain.

Saya beruntung lingkungan dan keluarga saya mendukung jalan saya di bidang desain. Sejak kecil, saya senang menggambar. Ibu selalu membawa pulang kertas-kertas sisa dari kantornya dulu untuk saya corat-coret. Di sekolah, meski jarang ikut lomba dan tidak pernah menang, teman-teman di organisasi meminta saya untuk menggambar di baliho acara atau backdrop festival yang besarnya sekitar 10m x 11m. Kuliah di Desain Komunikasi Visual pun mendapat dukungan penuh dari keluarga. Mereka tidak khawatir jika anaknya nanti jadi sinting.

Dari bangku kuliah, saya mendapatkan banyak hal, salah satunya adalah berpikir secara visual. Menggunakan tipografi, bentuk, warna, dan lainnya, yang kemudian menjadi salah satu cara untuk memecahkan masalah. Ya, seorang desainer adalah problem solver. Namun tidak hanya itu, desainer harus dapat menciptakan sesuatu yang bernilai bagi orang banyak. Sesuatu yang benar dan dapat dipahami. Materi perkuliahan tidaklah cukup. Diskusi dengan sesama desainer maupun dengan teman-teman lain seperti mata air yang menyegarkan. Masa-masa ini adalah masa dimana banyak hal yang saya peroleh membentuk sebuah idealisme.

Di dunia kerja, menghadapi atasan, maupun klien yang kadang tidak mengerti tentang desain adalah tantangan. Tidak semua apa yang saya dapat selama ini bisa dengan lancar disampaikan. Komunikasi memang penting. Cara penyampaian yang baik dalam menerapkan ide maupun gagasan yang sesuai dengan apa yang saya yakini menjadi kunci. Saya juga masih belajar soal ini, meski rasanya seperti road trip mengendarai motor (sampai pantat sakit). 

Baik saja tidak cukup. Bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna memang benar, tapi detail-detail dalam sebuah karya bisa diterapkan tanpa cela, sekecil apapun. Setiap pixel harus tepat pada tempatnya. Sebuah ikon di halaman depan website harus memiliki ukuran yang pas. Mencari warna yang seirama bisa sangat melelahkan. Hal-hal semacam ini yang terkadang luput dari pemikiran orang awam. Kebanyakan klien memburu waktu serta menghemat biaya.

Karena hubungannya dengan banyak orang, desainer dituntut untuk realistis. Menghabiskan banyak waktu memikirkan detail bisa menghambat proses. Namun yang harus tetap dipertahankan adalah kualitas dalam berkarya. Terlebih jika mampu menyajikan konsep yang kuat dengan eksekusi apik. Desainer yang menjaga kualitas karyanya tetap terjaga punya satu cara, yaitu menjadi fleksibel. Berpikir fleksibel mengontrol kita untuk bisa idealis namun tetap realistis. Konsep yang keren dan out of the box tidak melulu bisa dieksekusi dengan baik. Atau sebaliknya, konsep yang biasa saja tidak bisa dipaksakan dengan eksekusi yang berlebihan. Impossible is nothing, kita perlu memutar otak untuk bisa sejalan antara konsep dan eksekusi. Proses ini mampu menghasilkan desain yang tidak hanya bagus dari segi visual, namun membawa kebaikan dan jadi sangat bernilai. Tanpa harus mengutamakan tren.

Pada akhirnya, apa yang saya yakini ini memang belum bisa mewakili pemikiran semua desainer. Namun bukan tidak mungkin bahwa nantinya semua desainer akan bertemu di satu titik, menjadikan dunia ini lebih baik. Jika kafein mengalir dalam darah, maka desain adalah oksigen yang dibutuhkan tubuh saya untuk bisa terus berjalan ke titik itu. 

0 komentar:

Post a Comment