Whisperer in Darkness

Drawing pen and watercolor on watercolor paper. 2013

Masa kecil saya akrab dengan film-film animasi, salah satunya Batman. Bahkan sama seperti anak-anak di masa itu, saya sempat dibelikan ibu kaos bergambar superhero DC itu tapi tanpa embel-embel jubah (atau sehelai kain yang bisa berkibar) biru tua di belakangnya. Alasannya biar ga kayak anak-anak lain, nanti buat ngelap ingus.

Sekitar tahun 2005, Bruce Wayne yang dibintangi oleh Christian Bale kembali dalam film berjudul Batman Begins. Anak muda di jaman itu pasti setuju kalau film Batman yang satu ini keren. Beberapa tahun setelahnya, The Dark Night jadi bahan pembicaraan. Saya nonton bajakan, ngopy dari temen. Waktu itu mau nonton di bioskop ga punya duit. Yang menarik perhatian saya di Dark Night bukan lagi Batman, tapi si awesome Joker.

Gila, saya belum pernah lihat musuh seperti ini di film superhero manapun. Mungkin kesannya berlebihan tapi lihatlah, Joker ini ga punya kekuatan super tapi dia adalah supervillain. Gayanya selengean, tapi taktiknya cerdas. Dan suka-tidak suka, Joker dan Batman itu saling melengkapi. Silahkan cek di berbagai versi film maupun komiknya. Selain quote sensasional "Why so serious?", quote-quote lainnya pun tidak kalah super dari Om Mario si tukang ledeng sekalipun. Dan kebanyakan aksi Joker tidak berdasarkan uang maupun kekuasaan. It's purely for fun, and he did it because he wanted to do.

Dalam permainan kartu, Joker adalah kartu unik dengan nilai tertinggi. Penampilannya seperti badut, karakter penghibur, bodoh, lucu, namun setia yang muncul di cerita-cerita kerajaan di beberapa belahan dunia. Saya bukan orang yang lucu. Iya, salah kalau mereka bilang saya lucu. Salah di huruf "c" yang seharusnya adalah "g". Saya juga bukan orang bodoh. Belum pintar, iya.

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali bertemu dengan seorang sahabat lama. Dia yang dengan terpaksa berteman dengan saya sejak rambut saya dipotong pendek. Kami mengobrol di sebuah warung nasi goreng. Setelah banyak bahasan sebelumnya, pembicaraan terarah ke masa-masa kegelapan kami. Bukan kulit yang gelap terbakar panas matahari Bali, tapi cerita tentang masa lalu yang jika diceritakan, sensornya bakal mengalahkan gabungan film horor, komedi sex, dan kekerasan.

Dari cerita pramuka, perkelahian di lapangan basket, ospek sekolah yang macam-macam namun mendidik, kenakalan remaja sampai pengalaman organisasi yang "ajaib". Kelihatannya mungkin biasa, banyak orang mengaku mengalaminya. Namun jika kalian mendengar cerita langsung dari kami, sulit untuk sekedar percaya. Tapi ya, kalian tidak berada di masa kami. Yang membuat saya seperti sekarang ini. 


Dan akhirnya saya sepakat dengan yang sahabat saya katakan ketika kami akan beranjak pulang, "We're born to be famous. With our own way." Saya memaknainya sebagai kebahagiaan individu merdeka. Bahwa masing-masing kami dikenal oleh orang-orang yang layak mengenal kami. Bahwa kita sebenarnya tercipta menjadi orang-orang yang spesial pake telor, bukan hasil suntikan serum seperti Steve Roger.

Sejak jadi perantau di pulau penjual segala, saya mendengar banyak cerita dari teman-teman, dari hutan hingga kedai kopi. Dan setiap orang berhak atas cerita tentang dirinya sendiri. Bahkan seperti Joker yang punya beberapa versi cerita tentang bagaimana dia mendapatkan luka yang khas bernama Glasgow Smile. Atau dia memasang kembali kulit wajah yang sempat dilepas paksa di Death of The Family. Saya percaya, bahwa sesungguhnya setiap orang mempunyai cara berkomunikasi dengan tiap individu secara berbeda, disesuaikan dengan banyak hal. Dari bagaimana orang menanggapi, latar belakang dan sebagainya.

Selama ini orang yang berkenalan dengan saya, reaksi pertama kebanyakan tersenyum setelah mendengar nama. Ada yang kemudian berpikir bahwa saya berasal dari sunda, ada yang mengaitkan dengan menteri, dan banyak lagi. Termasuk mendefinisikan nama saya secara umum sesuai kamus, dan menilai kelakuan saya sebaliknya. Ya, itu juga hak mereka. Sementara arti dan maksud nama yang diberikan kepada saya adalah hak orang tua saya, saya pun berhak memaknainya sendiri.

Saya adalah apa adanya saya. Tidak bersembunyi di balik topeng orang lain dan tiba-tiba muncul lalu menghilang. Keberadaan saya diantara kalian beralasan, nikmati tiap detiknya. Dan ketika saya pergi nanti, tak perlu mengingat bagaimana kalian meributkan nama dan siapa saya sebenarnya. Bukan soal bagaimana terlihat terang, tapi bagaimana bisa kuat bertahan dan lolos dari kegelapan. Selamat menikmati.
"Madness, as you know, is like gravity. All it takes is a little push. "
―The Joker[src]

0 komentar:

Post a Comment