Saya dan Kopi

Lou Coffee

Semua orang selalu punya alasan. Termasuk keterlambatan. Namun seringnya orang menganggap keterlambatan adalah hal yang biasa saja. Alasannya sama seperti; "peraturan dibuat untuk dilanggar". Maka menurut mereka, waktu diciptakan untuk tidak ditepati. Sama seperti janji.

Saya bukan orang yang tidak pernah terlambat. Sesekali saya terlambat. Dan saat itu, saya merasa berdosa sekal. Tatap mata mereka yang lama menunggu membuat saya tidak nyaman. Seperti berada diantara ribuan zombie yang siap memakan otak saya, dan saya menyerah tanpa senjata.

Kali ini, saya hampir terlambat memposting satu karya di bulan Oktober. Memang, tidak ada yang dirugikan atas keterlambatan ini kecuali diri saya sendiri. Tapi, dengan tidak terlambat, saya menghargai waktu dan diri saya sendiri.

Saya penyuka kopi. Bukan pemuja. Karena tidak perlu berlebihan sampai memuja cairan hitam dari biji-bijian itu. Hanya saja, kopi selalu jadi inspirasi saya dalam berkarya. Setidaknya dalam setahun terakhir ini, saya lebih intim dengan kopi. Bukan dengan pacar, karena belum punya.

Saya menemukan beberapa hal dalam proses menyeduh kopi yang bisa dijadikan panduan dalam berkarya, baik itu ilustrasi atau desain. Proses membuat kopi dan karya sama-sama membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Takaran kopi yang tepat sama dengan goresan garis yang bebas namun hati-hati dan penempatan pixel yang tepat. Saya tidak menggunakan kata sempurna, karena dalam setiap penciptaan oleh manusia, tidak ada yang sempurna. Yang lebih baik ada.

Cuma mau posting satu karya saja nulisnya kebanyakan cerita tentang diri sendiri. Mungkin karena kebanyakan baca blog lain. Mungkin. Ini kan Hari Blogger Nasional. Jadi ya, biarin deh.

Crut!

0 komentar:

Post a Comment