Ngopi Bareng Navicula


navicula

Jadi, ini sebenarnya cerita tepat sebulan yang lalu. Malam itu setelah kesana kemari, saya memutuskan nonton GrAnaT (Gelar apresiasi Anak Teknik). Semacam festival musik yang dipersembahkan oleh pemuda-pemudi Fakultas Teknik Udayana yang menampilkan band-band cadas Indonesia. Ya, awalnya sempet ragu karena ga yakin bakal terpuaskan seperti pas nonton Metallica (sori tulisannya masih bawa-bawa Metallica, harum maklum ya...), tapi ada satu band yang jadi alasan tetap datang, Navicula. Band grunge asal Bali ini lagi naik daun (meski ga sambil teriak pucuk... pucuk...)

Dulu, pertama kali tahu dan nonton Navicula adalah ketika kurang lebih setahun semenjak kepindahan saya di Bali. Mereka main di salah satu gelaran komunitas di pinggiran Denpasar. Mendengar musik dan liriknya, saya cuma bisa diam (kalo kata teman kayak nonton wayang) tapi ada efek merinding/gemetar (kayak abis pipis - ga tahu mau dijelaskan seperti apa lagi). Lirik-lirik yang kebanyakan menyuarakan isu-isu lingkungan sangat pas dibawakan dengan cadas. Band ini pula yang membuat saya kembali rajin nonton pertunjukan musik yang lebih intim, meski tidak datang dengan pasangan, tapi tetap pakai sandal sepasang.

Karena teman saya, Njong, adalah salah satu mahasiswa Fakultas Teknik Udayana, maka saya bisa nonton Navicula dari samping panggung. Seperti biasa, tanpa headbang, meski getarannya tetap terasa. Maksimalnya penampilan mereka, juga nyanyian dan energi dari penonton membuat saya tersenyum dalam hati, mereka pantas jadi band besar (menghindari kata rockstar seperti Dave Grohl). Saya lupa berapa lagu mereka mainkan malam itu. Yang jelas mereka hanya salah satu dari sekain banyak bintang tamu di festival tersebut, tapi penonton selalu bisa membuat mereka memainkan encore. 

Beberapa lama setelah mereka turun panggung, makan dan ngobrol dengan panitia, saya dan Pito yang sebelumnya asyik ngobrol dengan Alfred dan diminta foto bareng Dankie (kejadian aslinya absurd banget) memutuskan untuk lanjut nongkrong di Mangsi Coffee. Robi, sang vokalis bahkan membawa nasi bungkus dari panitia ke kedai kopi yang populer di kalangan dedek-dedek gemes Denpasar. Dia kemudian asyik makan setelah sempat menawarkannya kepada kami.

Sambil ngopi, mereka seru sekali bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka ketika konser di beberapa tempat. Mulai dari foto ketika konser di Jakarta, sampai cerita tentang sopir mereka yang muntah karena mabuk darat waktu mengantar mereka sepulang konser dari daerah perbukitan di Bali.

Sambil asyik mendengarkan mereka bercerita, saya tergoda melihat Sony Xperia Z-nya teman saya, Njong, tergeletak manja. Iseng-iseng saya pinjam buat gambar. Ternyata belum terinstall aplikasi sketch, adanya cuma notes. Ya sudah, saya coba saja corat-coret. Pertama kali nggambar pake layar sentuh langsung, tanpa pake stylus pen. Agak kesusahan sih, tapi lama-kelamaan asyik. Om Dadang/Dankie yang duduk didepan saya pun akhirnya jadi model, tanpa dia tahu sebelumnya :D

dadang "dankie" navicula

Dan jadilah sebuah coretan pertama memakai smartphone layar sentuh. Kata teman-teman sketsa om Dankie ini mirip om Ipung. Hahaha. Dari kesempatan ngopi bareng ini pula, saya jadi makin salut dengan mereka yang konsisten dengan jalur mereka bermusik dan meneriakkan pesan-pesan tentang kesadaran terhadap lingkungan. Sambil menunggu album baru mereka rilis, saya juga menunggu janji mereka untuk tampil di Kota Batu, Rock on The Real Rock City!

Crut!

0 komentar:

Post a Comment