Meledak di Jakarta

Bangun tadi pagi, saya melihat kembali gelang tanda masuk konser Metallica Jakarta, 25 Agustus 2013. Gelang itu sudah lusuh, robek setelah saya lepas. Niatnya mau move on, tapi apa daya. Setelah tercatat sebagai sejarah, tidak ada yang bisa cepat lupa. Bahkan bau di kaos hitam yang basah oleh tumpahan keringat malam itu masih menempel karena belum sempet saya cuci.

Kaos itu tidak bertuliskan Metallica. Yang saya kenakan bukan merchandise berharga ratusan ribu, bergambar 4 tokoh sangar dan tulisan beberapa kota yang didatangi Metallica dalam Tour Asia-nya. Kaos hitam polos itu jadi saksi bisu meledaknya euphoria yang beberapa minggu sebelum konser dimulai masih terkendali. Merinding jika mendengarkan kembali The Ecstasy of Gold, dan hentakan Hit The Lights sampai akhir Seek and Destroy melambungkan ingatan tentang headbang yang kiranya hanya Tuhan dan Pito yang bisa ditanyai.

Apakah hanya itu yang saya peroleh? Tidak. Ledakan itu adalah akumulasi. Mesiu-mesiu itu sudah tertimbun lama. 

Beberapa hari sebelum berangkat, ada seorang perempuan bertanya, "Memangnya kalau nonton musik metal bisa sing along ya?" Seharusnya dia ada di malam itu. Tenggelam diantara paduan suara terbesar menyanyikan Entersandman.

Seharusnya bapak-bapak bertato yang pasang muka gahar di baliho pinggir jalan itu datang ke konser. Agar dia tahu, anak metal itu bisa tertib, dan tidak saling tikam memperebutkan daerah kekuasaan. Meski berdesak-desakan tapi tidak menyakiti, bahkan malah berbagi segelas plastik air minum dengan orang yang tidak kamu kenal.

Seharusnya ibu-ibu hamil memperdengarkan calon bayinya lagu-lagu metal. Agar anaknya nanti meski keras dan tangguh berjuang, tapi berhati lembut seperti ketika menyanyikan Nothing Else Matters dengan mata berkaca-kaca.

Seharusnya anak muda jaman sekarang rajin menabung. Agar kelak tidak minta uang kepada orangtuanya untuk nonton konser. Bahkan rela menjual barang-barang kesayangannya untuk hadir menjadi bagian dari sejarah.

Seharusnya mas-mas yang melulu berbicara soal cinta itu mengajak pacarnya datang ke konser ini. Membuktikan bahwa melindungi pasangannya dari desakan ribuan orang itu lebih nyata dari sekedar bualan berbunga-bunga.

Ah, kan, kok jadi bawa-bawa bunga...

Tapi buat saya ini bukan hanya soal Metallica, tapi juga berdampak terhadap persepsi saya tentang Jakarta. Meski tetap tidak merubah sikap untuk menolak jadi penghuni tetap metropolutan, saya akan berdamai dengan ibukota negara Indonesia.

Saya ga bawa buku sketsa waktu konser, ingin khusyuk ber-headbang ria. Tapi ini oleh2 dari #RoadtoMetallicaJKT. Oh, ya, dalam rangka demi Metallica juga saya melakukan perjalanan udara saya untuk pertama kali. Rasanya ternyata biasa saja. *Semoga malam pertama rasanya ga se-biasa ini. Crut!*






Gambar-gambarnya blurry, biar cocok sama tema sejarah. *alasan*

0 komentar:

Post a Comment