Pulang, Bagian I

Kamu dilahirkan di rumah bersalin.
Dalam kamar yang tidak terlalu istimewa, 
namun terjaga kebersihannya.
Dibesarkan di rumah orangtuamu, 
yang seharusnya menjadi tujuanmu untuk pulang, 
sementara.

Kamu tahu, banyak orang berat sekali menceritakan kembali tentang rumah, 
maupun tentang apa yang dialami ketika pulang.
Begitu juga kamu.
Selama kamu jauh dari rumah, bayanganmu sesekali pulang.
Seharusnya kamu lebih banyak mendapat pelajaran tentang tempat, 
maupun perasaan.
Refleksi tentang siapa dirimu, 
maupun apa yang membuatmu jauh.
Tentang bagaimana kamu harus bertahan dengan jarak, 
maupun tentang jalinan rasa yang seharusnya terjaga.

Tentang apa yang sudah kamu lakukan, 
maupun apa yang akan kamu hadapi selanjutnya.
Bahwa ada yang harus direlakan dan tetap diperjuangkan.
Ada ego yang dibenturkan keras-keras oleh kenyataan. 
Bahwa kamu pernah jadi bagian dari kehidupan orang yang mengurangi jatah makannya agar kamu bisa.
Kamu bangga dengan kenakalanmu.
Jumawa dengan caramu bertahan hidup.
Menganggap dirimu lebih pintar dan berpikir tentang kebahagiaan versimu.
Bebas sebebas-bebasnya.

Kamu bisa saja menganggap dirimu benar. 
Apa yang kamu tinggalkan karena tak sejalan akan beranggapan sama.
Volume suaramu meninggi ketika berkata, "belum saatnya!"
Keriput wajah yang terekam di benakmu tak pernah menunggumu.
Tulang yang mulai renta tak akan berteriak memanggilmu.
Sampai akhirnya batu di dadamu pecah.
Menenggelamkan rasamu jauh ke perut bumi.
Dan sebelum itu seharusnya kamu tahu.
Sisihkan waktu untuk lebih lama bercermin.
Bukan bersolek, melainkan melihat sosok di seberangmu berkata, "mari pulang, saudara!"




0 komentar:

Post a Comment