Menuju Metallica Jakarta


"Jangankan ludah sendiri, ingus saja kalau lagi pilek juga tertelan. Jika kalian kemudian berpikir ini jorok, kita semua jorok dari lahir!"

Seorang teman kuliah dulu pernah bertanya, "Siapa idolamu?" Jawaban saya cepat waktu itu. Bukan seorang musisi, artis, maupun desainer. Dan jawaban itu tidak akan saya sebutkan di tulisan ini. Tapi jika pertanyaan itu tentang siapa yang saya kagumi, mungkin saya akan sebutkan beberapa.

Salah satunya Metallica.

Metallica akan datang ke Jakarta. Entah kenapa lagu Navicula berjudul "Metropolutan" kemudian berdentang keras di kepala setelah mendengar nama kota ini disebut. Bukan benci, hanya saja itu bukan kota tujuanSaya juga tidak membenci konser musik. Saya hanya merasa bahwa euphoria konser musik yang berlebihan itu berbahaya. Mematikan.

Semakin dekat dengan hari dimana konser digelar, banyak berita positif. Euphoria terkendali, rumput stadion diberi pelindung, panggung aman, rambut sudah gondrong, dan band pembuka dipastikan. Jadi saya bisa optimis, ini bakal melengkapi catatan sejarah kehidupan saya. Berlebihan? Biasa saja.



Sejak kecil, orangtua mengenalkan musik ke telinga. Lewat radio sebelum tidur, kemudian tape recorder, sampai VCD player setelahnya. Karya-karya yang saya ingat pernah singgah di telinga kecil saya adalah karya Gito Rollies, Koes Plus, Led Zeppelin, Scorpion, sampai Leonel Richie. Banyak setelahnya, dan sampai ke Metallica. Sebuah nama yang dikenalkan oleh kakak saya lewat coretan di tembok belakang rumah yang berusaha saya tiru dulu ketika masih kecil. Karya-karyanya yang kemudian menyusul diperdengarkan memenuhi rumah sederhana kami. Sampai di masa akhir SMP, ada beberapa teman yang memperdengarkannya kembali lewat permainan gitar akustiknya. Saya ingat, intro Entersandman dimainkan dengan rapi. Kemudian itu menjadi lagu wajib dari Metallica yang mengisi playlist.

SMA adalah masa dimana saya sampai di masa ingin mendalami musik. Koleksi kaset sedikit demi sedikit bertambah, dan makin beragam. Sempat jadi pendengar setia radio-radio rock, dan merekam beberapa lagu ke dalam kaset. Sempat batal membeli album St. Anger setelah beberapa kali mendengarkan musiknya di MTV, hanya lagu St. Anger saja yg bisa diterima oleh telinga dan memori. Setelah nonton MTV Icon: Metallica, hasil unduhan seorang teman, deretan lagu yang diaransemen ulang oleh beberapa band papan atas masa itu, serta penampilan James Hetfield dkk sendiri membawa memori saya kembali ke awal-awal saya mengenal Metallica.



Beberapa hari sebelum pengumuman resmi di website Metallica, isu sudah beredar di twitter. Dan hari dimana penjualan tiket resmi dibuka, saya bahkan hanya punya sedikit rupiah di tabungan. Saya yang sebelumnya sudah ngobrol dengan teman tentang betapa konser ini akan jadi sejarah, mengirimkan sms harga tiket Festival. "Kamu jadi beli?" Tanya dia. "Belum pernah aku seNekat ini! Haha!" Sambil ketawa. "Make it two!" Singkat cerita, tiket terbeli pada hari pertama, dan saya resmi puasa sebulan! Di bulan Ramadhan. Haha!


Lagi-lagi ini bukan soal pilihan. Kalo kata Papa Het:
Never opened myself this way
Life is ours, we live it our way
All these words I don't just say
And nothing else matters...



Mari berangkat!

0 komentar:

Post a Comment