Dingin

Saya dilahirkan di daerah dingin. Di lereng gunung, daerah yang mendapat julukan Java's Little Switzerland. Dimana buah apel, jeruk, stroberi tumbuh subur disana. Dimana dulu, akan aneh jika melihat ada gadis bercelana mini jalan-jalan di pusat kota, atau sambil mengendarai sepeda. Sekarang saya jauh dari sana. Tapi ada rasa yang mirip, yang bisa saya dapat di pulau yang saya tinggali sekarang.

Saya bukan ingin menulis sajak indah, puisi, ataupun menceritakan kisah hidup pilu yang seharusnya hanya dikunci di kotak misteri. Saya hanya merasa harus menulis. Merangkai kata yang tak sempurna, menemani sketsa yang saya buat di sebuah rumah di desa.

Tempat ini tidak/belum direkomendasikan di Tripadvisor. Dan saya harap jangan. Bukan karena tidak ingin berbagi, tapi biarkanlah tempat ini dikunjungi secara alami, seperti seharusnya. Dari teman-teman dekat yang menceritakan keistimewaannya.


Pagi disini seperti waktu dimana harus mensyukuri guyuran air dengan gigi bergetar, berangkat ke sekolah, jalan kaki beberapa kilometer dari rumah. Pagi seperti dulu, di musim hujan, dengan kabut tebal yang mondar-mandir seperti dokar yang mengantar orang-orang ke pasar. Dingin. Meski tidak perlu ada kebebasan yang berlebihan, yang terpenting disini adalah "Dilarang Melarang". Disini, seperti seharusnya, setiap orang harus menjadi diri sendiri.

 

Banyak kisah yang terekam di tempat ini. Dari orang-orang yang tidak sempat menulis buku tamu, meski sempat berbagi oksigen, dan asap bakaran kertas lirik lagu yang dinyanyikan malam harinya. Berbagai mimpi lahir menyertai dinginnya udara dini hari, bersama tetesan embun di daun-daun pekarangan. Manusia-manusia ini pulang dengan senyuman, kebahagiaan, dan kesempatannya masing-masing. Melanjutkan hidupnya kembali, yang mungkin juga tanpa sadar telah mendapat pelajaran dari kalimat di sebuah poster yang menempel di ruang tamu yang dingin. 

Every moment is another chance.

1 comment:

  1. dilarang melarang dan kebebasan namun tak kebablasan ;p

    ReplyDelete