Kecoa dan Cacing Tanah

Ada yang bertanya, "Sejak kapan kamu jadi pengamat kecoa?"
Saya bukan pengamat kecoa, tapi sejak lama mendapat pelajaran dari binatang ini. Mengapa kecoa? Karena dia berhubungan sangat erat dengan manusia. Erat dalam artian binatang ini sering dan mudah ditemui, di rumahmu, di dekatmu.

Awalnya mungkin karena baca cerpen, ato dengerin lagu. Mungkin. Tapi seingat saya, malam itu, saat saya sudah lelah, hendak mematikan lampu dan segera tidur. Binatang berbadan coklat ini kemudian berjalan oleng dan saya membiarkannya lewat di depan saya begitu saja. Dan si kecoa kembali lagi, kali ini berhenti, mungkin mau menyapa, atau mau cerita. Ah sudahlah, saya ngantuk. Sebagai pemuda yang lumayan taat ngetwit, sempatlah saya menyebut-nyebut si kecoa tak bernama ini sebelum tidur.
 
Setelah sekian lama, si kecoa muncul lagi, dini hari. Ya, mungkin bukan kecoa yang sama, tapi tetap saja itu kecoa. Ga punya nama. Dan berhari-hari sesudah itu, saya jadi semakin akrab. Si kecoa juga tidak sungkan-sungkan nempel di kaki, melewati alas tidur yang tinggal kurang lebih 4cm tebalnya. Makin sering menampakkan diri, makin sering pula dia jadi teman cerita. Tidak seperti cacing tanah warna coklat (juga) yang cuma diem *kruget-kruget* ketika saya sedang cari inspirasi di ruangan isolasi dengan lubang pembuangan yang manusia banyak menyebutnya sebagai toilet. Jadi maaf saja kalau si cacing tanah ga jadi bahan obrolan asik di linimasa.



Yang terakhir, ketika makan siang di sebuah warung, tiba-tiba si kecoa terbang dan mendarat di dalam mangkok besar bumbu pecel. Saya tahu, itu bukan kecoa yang biasa cerita-cerita sama saya. Ya iya lah, masa jauh banget mainnya. Saya yang tahu hal ini spontan berbisik memberitahu teman saya yang sedang mengantri untuk memesan makanan. Awalnya dia kaget, lalu berubah datar dan berkata, "Gapapa, halal kok!" Iya, saya malah yang sedikit kaget denger pernyataannya, meski mungkin bercanda. Saya tahu kecoa itu proteinnya tinggi, tapi mungkin masih terlalu naif dan menganggap banyak orang masih jijik dengan kecoa. Menyaksikan teman saya makan pecel dan menyingkirkan kaki kecoa yang tertinggal di makanannya, saya jadi semakin yakin. Jangan remehkan kecoa!

Baru beberapa hari saya di tempat baru, meninggalkan kecoa dan cacing tanah tanpa pamit. Tetap saja si kecoa dan cacing tanah-yang meski cuma jadi pelengkap-jadi kisah yang istimewa. Setidaknya buat saya. Jadi saya pamitan saja sekalian sekarang, meski mereka mungkin ga baca. Selamat tinggal kecoa dan cacing tanah, saya mau move on.

crut! 
 

2 comments:

  1. Hahaha

    Kita pernah ngomong soal kecoa yang bernama dan merdeka dari nama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahlo,
      Ni kok admin yg komen? huehe

      Delete