Manusia di Alamnya

Sederhana, bumi terlalu luas untuk manusia. Setiap manusia pasti pernah merasa tidak puas dengan suatu keadaan. Ada yang memilih pasrah menghadapinya, pergi tanpa alasan, dan atau menikmatinya. Lalu saya?... tidak memilih...  *selalu ada alasan untuk ini.

Begitu pula apa yang saya jalani sekarang. Saya tidak lagi berada di rumah, bersama keluarga besar, dan teman-teman yang dulu selalu bersama melangkahkan kaki, dan memacu roda-roda gila. Hanya di sebuah ruangan yang kurang lebih berukuran 3m x 5m. Ditengah pulau yang menurut beberapa orang adalah surga (seolah-olah mereka sudah pernah mati). 

Apa yang saya cari? Keindahan yang mereka ceritakan?
Sungguh, awalnya saya sempat terprovokasi memang. Membayangkan tengkorak saya bakal terbuka tertiup semilir angin pantai sore hari. Sehingga ide-ide yang terperangkap disana tak akan membusuk, namun keluar dengan suka ria. Namun, ini tetap tempat manusia, dengan berbagai macam ulahnya. Keindahan itu, tidak mudah saja saya temui ketika pagi hari tepat didepan pintu saya tinggal.

Setelah beberapa bulan hanya mengenal jalanan panjang dengan asap dan klakson, serta beberapa tempat konvensional yang manusianya hanya akan tersenyum ramah pada rombongan wisatawan, atau orang-orang berpenampilan luar biasa - ya, bukan pada seorang lelaki bersendal jepit, berambut panjang acak-acakan, berkaos oblong, dan celana bolong. Pahit memang, tapi itu realitanya -. Setahun lalu, saya memulai melangkahkan kaki lagi menghindar dari asap kendaraan. Menjenguk mentari pagi dari puncak gunung, di bagian timur pulau ini, bersama beberapa teman.


Beberapa bulan setelah itu, saya pindah ke tengah kota, bergaul dengan polusi, teman, dan pekerjaan baru. Keinginan untuk tidak hanya diam di dalam kotak 3 x 5 pun tak pernah surut. Sempat kemudian bertemu kembali dengan kawan lama, dan pergi lagi ke arah timur. Kali ini merasakan kembali semilir angin pantai. Pantai yang belum begitu banyak orang tahu. Entah karena perbedaan penyebutan nama, atau letaknya yang tak terlalu diketahui. Yang jelas kali ini beda. Tak banyak manusia yang telanjang berjajar beralas pasir. Atau berkubang berjejalan mengotori laut. Damai.



Kemudian sepi. Kembali menatap kotak kaca dengan manusia yang tak menjadi dirinya sendiri. Sampai suatu ketika saya memantapkan diri kembali mencari udara luar. Melalui jendela di belantara maya. Mencoba menemukan kembali peluang untuk berhenti menghirup asap kendaraan. Lalu bertemu orang-orang baru, yang ternyata juga terkoneksi, oleh pohon-pohon di kintamani. Sampai saat ini, satu persatu kemudian saling bertemu. Tidak menjadi satu memang, tapi bersatu. Dan itu cukup.




Di luar sana, memang masih ada banyak manusia seperti saya. Yang juga dianugerahi lima indera. Diantaranya ada dua mata untuk menonton kelakuan manusia, dan dua telinga untuk mendengar ocehan manusia. Lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Saya pernah membaca beberapa cerita perjalanan dengan kedua mata. Dan menginspirasi saya untuk selalu keluar rumah. Memberanikan diri lebih sering menonton dan mendengar manusia di alamnya. Dan sungguh saya belajar banyak, dengan segala keterbatasan.

Lalu, apakah kemudian saya tidak punya tujuan? Hei, tujuan akhirnya, saya yakin ada di atas sana. Namun setidaknya disini, saat ini, saya dapat belajar mengolah rasa, sembari meniti anak tangga menuju rumah sebenarnya.

0 komentar:

Post a Comment