MenikMATI Setiap Detik


Lagi-lagi saya masih belum menyelesaikan skripsi. Semangat pasang surut, dan ada saja alasan untuk menyapa umpatan dalam hati. Bahasan yang keliru, atau kurang teliti, sampai yang saya bahkan tidak tau dimana kesalahannya. Saya mungkin tidak bodoh, tapi juga belum pintar. Saya bukan mengeluh, hanya mencoba bercerita realita. Semoga jalan yang saya lalui ini tetap terlihat, walaupun kadang pandangan saya yang tertunduk kebawah. Jadi teringat seorang teman yang membalas alibi saya ketika berkata "ikhtiar" dengan "mubadzir". Membuat saya tertawa, tapi tidak cukup disebut gila.

Yang membuat saya bersyukur adalah masih bisa menyempatkan diri memohon dengan dua tangan, menghibur diri, menatap kotak 21 inci, menekan tombol-tombol penuh kontrol, menuangkan ide liar pada kertas putih, menikmati secangkir kopi hitam nikmat mantab, sampai berdiri melihat orang-orang menendang bola tak berdosa, sudah mengisi jadwal berhari-hari.

Apapun itu, saya masih menikmati setiap detiknya. Tak peduli teriakan satwa hutan, duri-duri tajam rimba sialan, dan kerikil-kerikil iseng menyapa dijalan.

Semoga saya tetap sabar menjalani sesuatu yang tidak saya sebut kesibukan ini. Sabar menunggu, sabar berkarya.
Semoga saya tetap sadar dengan yang mereka sebut sebagai lanturan ini. Semoga hari ini, semoga besok, semoga lusa, semoga seterusnya saya masih bisa berdoa dan berusaha.


_ditengah Talk Shows On Mute - Incubus_

1 comment:

  1. amiin amiin
    mohon dukungane yo, skripsi iki

    ReplyDelete