Apa ini?Skripsi lagi?


Didepan mataku masih tersangkut benda aneh, tapi bukan belek. Seperti beberapa huruf yang merangkai sebuah kata. Kata yang bagi sebagian orang sama dengan monster jahat, suster ngesot, mimpi buruk, pelangi, jembatan hidup, stroberi manis, susu hangat rasa coklat, atau apa sajalah. Baik dan buruk.

Beberapa teman pernah berkata pada saya bahwa "skripsi itu bukan hal penting!", "ngga perlu dipikir lah!", "dijalani aja!", dan masih banyak lagi. Teman - teman saya dari kampus lain yang sudah pernah skripsi bilang kalau skripsi itu gampang, kalo susah berarti yang ngerjain males. Haha, saya tertawa mendengarnya, mau komentar apa lagi. Saya sendiri pernah berpikir kalau skripsi itu adalah level "boss" dalam game - game nintendo jaman dulu. Sulit banget sampai harus mengeluarkan mantra - mantra binatang ketika memainkannya. Tapi ternyata ini bukan game! Ini dunia nyata, realita!Jika dianggap sulit, ya tambah sulit. Dianggap mudah, ya belum tentu juga.

Realita yang ada seperti timbangan kosong yang timpang. Dari sistem dan struktur yang batereinya mlembung, ngedrop.

Menurut Buku Petunjuk Teknis Penyusunan Skripsi/Tugas Akhir yang memperolehnya harus tanda tangan dulu, Skripsi merupakan karya ilmiah bersifat terap ilmu yang ditulis oleh mahasiswa Program Sarjana pada akhir masa studinya berdasarkan hasil penelitian, kajian kepustakaan, atau pengembangan suatu masalah yang dlakukan dengan seksama. Entah kenapa pernah juga saya menganggapnya "lubang tai". Mungkin karena banyak yang terhambat sampai bertahun tahun di bagian ini. Yang terhambat mungkin tainya besar atau kurang serat, jadi sulit keluar. Yang lancar mungkin tainya kecil atau lunak, jadi langsung meluncur, blenggg. Lho ya, kok jadi ngomongin kamu,,,

Pernah juga saya terjebak dengan sistem dan struktur yang aneh. Semangat yang menggebu - gebu untuk memulai skripsi dihantam palu besar dan memaksa untuk menunggu judul skripsi sampai baru keluar kurang lebih 2 1/2 bulan. Syukur alhamdulillah banyak yang melontarkan kata - kata sakti yaitu "sabar" kepada saya. Sampai tercetus guyonan saya menyisipkan sabar dalam nama saya. Ternyata kata itu betul - betul menancap di kepala, menembus tenggorokan, hati, sampai telapak kaki dan menembus ke tanah membuat saya diam dan kemudian bersyukur. Saya merasa ada yang salah memang dari sistem dan struktur dalam penyusunan skripsi di dunia saya.

Tapi menyalahkan saja ternyata tak cukup. Salah satu cara yang saya jalani saat ini adalah dengan membuatnya seperti jalan di tengah perkampungan. Tak perlu berlari, cukup berjalan, tapi pasti. Ditengah perjalanan boleh lah menengok ke kiri dan kanan untuk sekedar menyaksikan keunikan yang tersaji di sepanjang perjalanan, yang orang lain tak menganggapnya begitu. Terkadang juga berhenti untuk mengamati, mencoba menggali makna, atau sekedar bersandar melepas lelah. Jalan ini tak hanya saya yang melewatinya, banyak orang juga melewati jalan ini. Yang membedakan hanyalah lebih dulu, atau belakangan. Ujungnya memang sama, tapi yang membedakan oleh - oleh yang berhasil dibawa dari perjalanan itu.

Ada yang hanya lewat, namun sesampainya di ujung tak membawa apa - apa. Ada yang sempat mampir, melihat - lihat, sampai di ujung membawa cerita. Ada juga yang tidak sampai - sampai di ujung karena kecantol sesuatu di tengah perjalanan. Saya hanya berusaha menikmati perjalanan ini, dengan semangat, namun tak perlu menggebu. Berjalan pelan, tapi pasti.

Selamat dan salut untuk mereka yang pernah berhasil melaluinya.
Terus berjuang untuk mereka yang telah melangkah jauh.
Tak perlu risau untuk mereka yang sedang berhenti mengambil nafas.
Semangat untuk yang masih ragu untuk melangkah.

1 comment:

  1. wah, aku baru masuk pintu gerbang 'kampoeng skripsi'
    sek sepi, durung ketemu pak RT ne

    ReplyDelete