Masih Pentingkah Punya Kartu Nama?

Lugu Gumilar namecard © 2017

"Maaf, masih cara lama." Katanya sambil menyodorkan kartu nama. 
Di era digital ini, mungkin beberapa orang akan menganggap kartu nama adalah hal yang old school. Seperti salah satu yang Abraham Lincoln punya di sini. Tapi tahukah bahwa kartu nama masih penting ketika hampir semua orang menghabiskan kontak lewat dunia maya.

Keberadaan kartu nama secara fisik tidak bisa tergantikan.

Ketika bertatap muka dengan orang baru, entah itu urusan bisnis atau hanya sekedar terlibat percakapan yang seru. Kartu nama adalah jembatan nyata, ketika kita sebagai manusia sering dilanda lupa. Meski setelahnya, kita bisa memindah informasi yang ada ke telepon genggam atau yang lain. Dan setidaknya lebih formal dari sekedar:

"Cek IG kita dong, Sist!"
"Googling aja namaku; Lugu Gumilar"

Kartu nama adalah kesan pertama. 

Bisa jadi ketika memulai percakapan, kesan dapat terbentuk lewat informasi, desain, bahkan keunikan dari kartu nama. Sehingga percakapan selanjutnya tidak akan melebar ke hal-hal yang kurang penting. Apalagi ketika bertemu dengan orang yang berpotensi menjadi relasi bisnis. Bayangkan saja kesan yang mungkin muncul jika kita sedang mencatat nomor telponnya di smartphone lalu baterai habis, atau ditelpon mantan.

Kartu nama yang kreatif menjelaskan banyak hal.

Bukan berarti semua informasi harus dimasukkan ke dalam kartu kecil ini. Namun penyampaian yang padat dan efektif, ditambah desain yang simple dan menarik akan mampu memberi nilai tambah. Jadi kartu nama seperti ini tidak akan tenggelam di kantong atau dompetmu.

"Kartu nama begini saja bayarnya mahal sekali!" 

Iya, begitu pernyataan selanjutnya dari klien yang mungkin kurang paham bagaimana proses desain, sekaligus nilai dan potensi dari sebuah kartu nama. Pemilihan warna, alur susunan informasi dan penerjemahan persona seringkali kurang begitu dipahami oleh orang awam, bahkan "pebisnis sukses" sekalipun. Jadi, masih menganggap remeh kartu kecil yang tak hanya berisi nama ini? 

Cateringbali.com Business Card, designed by Lugu Gumilar. © 2014

Meski bagaimana cara kita berkomunikasi berubah dan akan menggunakan kartu nama secara berbeda, tapi saya yakin kita akan selalu punya kesempatan bertemu dengan orang baru dan berkenalan. Dan akan selalu ada cara yang menarik untuk memperkenalkan diri. Siapa tahu juga bakal saling menemukan jodoh lewat pertukaran kartu nama. :) 

Proses Desain Logo Helmen Coffee


Saya belum sempat menulis di blog ini tentang Helmen Coffee. Bukan karena malas, tapi selalu merasa tulisan saya belum selesai. Untung beberapa waktu lalu Anggara Mahendra sempat mewawancarai kami untuk Bali Buzz, cerita singkatnya bisa dibaca di sini.

Oke, suatu saat nanti pasti tulisan lengkap saya tentang Helmen Coffee akan bisa terbit di blog ini. Sebagai awal, kali ini mungkin akan saya ceritakan tentang salah satu proses kreatif di balik desain logonya. Coffee & Creativity memang pasangan pas. Itu pula mengapa kami di Helmen mendesain hampir semuanya sendiri. Termasuk logo.

Tenang, ini bukan "How To" atau "5 Tahapan Mendesain Logo" yang jadi judul andalan para konten kreator agar tulisannya viral dan membuat kamu menjadi ahli secara instan. Jadi kamu bisa melanjutkan baca dengan santai bahagia. Saya dan Irfan berkolaborasi menghasilkan logo Helmen. Irfan adalah desainer logo yang cukup disegani karena rambutnya lebih kriwil dari saya. Sementara saya yang sudah potong rambut lebih pendek sedikit ini lebih banyak bikin kopi dan mencuci gelas sembari mendesain.

Karena ini adalah logo dari brand kami sendiri, informasi yang biasanya kami dapatkan melalui brief dari klien kami dapatkan dengan saling memahami satu sama lain. Termasuk kontemplasi, dan mengerti apa yang akan kami tunjukkan di Helmen Coffee. Proses ini bahkan sudah dimulai sebelum nama Helmen Coffee kami dapatkan. 

Jika menilik proses, maka dari segala usaha tersebut kami mendapatkan bahwa sejarah ditemukannya kopi adalah citra ideal dan masyuk dengan kami. Dan kesepakatan itu berakhir pada; Kambing. Kami ingin kambing. Bukan diguling, sate atau krengseng. Tapi kepala kambing adalah simbol paling hakiki untuk kami, selain karena logo cangkir dan biji kopi sudah terlalu berlebihan. Sejarah tentang kambing sang penemu kopi bisa dibaca di wikipedia atau sumber lain. 

Selain mengacu pada sejarah, bumbu paling lezat dalam citra Helmen Coffee adalah musik berisik bergenre metal. Simbol-simbol yang merujuk pada kepala hewan bertanduk dan berjenggot ini bisa ditemui di banyak band-band metal di bumi. \m/



Dan dari banyak studi yang menuntun kami memvisualisasikan kepala kambing, akhirnya Irfan mengirim sebuah gambar tengkorak kambing yang seketika membuat saya mengetik Wow! Tadinya mau lompat-lompat kegirangan seperti kambing yang makan buah-buah kopi, tapi capek. Jadi reaksi ini hanya menggetarkan bulu roma dan menuntun saya membalas WhatsApp dengan satu kata tadi. Disepakati juga oleh kedua founder yang lain, yaitu #mzDanu dan Pak Ponyok.


Iya, ini gambar tengkorak kambing yang sempat jadi tebak-tebakan tiap orang yang datang ke Helmen Coffee.

Setelah kami mendapatkan logogram yang pas, pemilihan tipografi menjadi proses selanjutnya. Setelah akhirnya menemukan nama yang pas, yaitu Helmen Coffee, saya kebagian proses typeface logo ini dengan huruf-huruf yang saya kembangkan khusus. 

Initial sketches

Dari banyak sketsa di atas, mengerucut lagi menjadi satu yang akhirnya terpilih sesuai dengan citra liar, tradisional dan metal. 

Final sketch

Proses digitalisasi dan penyesuaian menjadi satu kesatuan logo yang utuh dalam hikmat dan kebijaksanaan kami adalah proses penghabisan perancangan ini. Semua seirama dengan bagaimana kami menyeduh tiap kopi yang tersaji di meja.



Proses handlettering ini juga saya terapkan dalam mendesain tiap jenis kopi dalam pouch yang bisa didapatkan di http://helmen.coffee/shop/
Detail pengerjaan akan saya jelaskan di terbitan selanjutnya. 

Beberapa koleksi desain logo yang saya kerjakan bisa dilihat di Behance.

Enjoy \m/

Jogja Suangar

Handlettering sehari sebelum packing. Diambil dari instagram @lugugumilar


"Apa satu kata untuk Jogja?" Tanya Ayik. "Slow." Jawab saya.

Pertanyaan itu muncul setelah menyantap bebek goreng Simpatik di Pasar Kranggan sebelum kami bertolak menuju Stasiun Tugu. Sengaja jadi pembuka cerita disini karena ada setiap kesan di akhir perjumpaan. Dan kesan ini seperti terbentuk di alam bawah sadar kita. Oke. Katakanlah saya berlebihan.

Tidak ada live sketch di perjalanan kali ini. Lebih banyak nyetir motor, lebih banyak dengar cerita, lebih banyak menikmati Jogja. Libur menyeduh, tapi ndak libur ngopi. Ayik dan Hendro yang juga penggemar kopi mengajak ke Wiki Kopi setelah mampir ke Klinik Kopi dan tutup. Mas Tauhid dengan segudang ceritanya membuat kesederhanaan Wiki Kopi jadi punya kesan sendiri. Saya? jadi pendengar aja, seperti biasa. Bahkan sehari sebelumnya, saya juga seperti orang ndak tahu apa-apa saat mampir ke Ruang Seduh, disuruh mencet tombol "on" sebuah grinder mahal dan alat seduh modern yang sedang ngetrend.


Rekam gambar oleh @najmasmeer

Padahal nawaitunya, kami hellBoys dan Denpasar Resign Club ke Jogja untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sejawat yang dipinang Cah Londo, Hesti. Tapi tak hanya pijat, niat juga ada plus-plusnya. Banyak kepala, banyak misi. Berangkat bebarengan setelah Helmen Coffee menutup pintu di tanggal 3 dini hari, bertolak ke Pelabuhan Gilimanuk menaiki mobil Pak Ponyok. Disambung ombang-ambing kapal ferry seperti biasa di Selat Bali hingga Pelabuhan Ketapang. Kereta Sri Tanjung dari Banyuwangi Baru - Lempuyangan juga melesat seperti seharusnya. Biasa saja.

Ke selo-an di Jogja berawal dari hari pertama ketika Ayik menyodorkan Peta "Yogyakarta Contemporary Art Map". Mayan, biar ga ke Malioboro melulu. Dan mulailah kami berdua naik matic menuju beberapa gallery yang ada di peta. 

Kami sampai di Lir, tapi masih tutup. Jadinya cuma mampir ngaso sampai lapar. Lanjut nyetir ke daerah Jl. Taman Siswa, dan berhasil tergoda sama papan reklame warung Lotek! Karena sudah di daerah situ, mampirlah kita ke tempat terdekat di peta. Ada HONFablab yang tersohor itu. Padahal awalnya saya ndak tahu mau ngapain, sampai2 perkenalan dengan Mas Tommy diawali dengan pertanyaan tentang printing kain. Oke, Fabrication is not a fabric printing. Gagal guyon.


Rekam gambar oleh @najmasmeer

Kami yang ingin menimba ilmu cetak gagal ke Studio Krack! karena tutup. Ke Langgeng Art Foundation juga gitu, meski ndak tutup tapi sedang ndak ada pameran. Cuma sisa-sisa pameran yang setelah saya cari tahu ternyata Jogja Agro Pop. Dan ada lukisan Gus Dur yang tidak bisa saya temukan identitas pelukisnya sampai saat ini. Haha.

Oke. Kami menutup peta fisik dan beralih ke peta digital untuk menemui teman lama Najma yang lain, Nian, di dekat ISI Jogja. Dan menemukan mural Jogja Ora Didol dekat Radio Buku. Lalu kembali ke kota cuma pengen tahu bentuk Kandang Menjangan. Biarin.


Rekam gambar oleh @najmasmeer

Muter-muter Jogja dalam artian sebenarnya adalah melewati Ring Road. Menghitamkan tangan dan merekam aroma jalanan di baju. Sempat-sempatnya juga mblakrak ke Kali Biru, wisata (foto) alam yang jadi tempat dedek-dedek rekreasi fotografi. Apalah bahasa saya ini.   

Terima kasih buat Hendro dan Ayik, duo arsitek teman lama Najma yang sudah bersedia antar-jemput, menampung kami bahkan meminjamkan motornya buat muter-muter Jogja. Juga mas-mas sangar di bengkel isi angin yang ketika saya tanya ongkosnya bilang "Terserah, mas!". Asli, Jogja iki jan suangar :))

My Store on Printerous!


Awal yang menyenangkan di 2016! Kalo ga senang ya dibikin senang saja! Beberapa sketsa yang tidak ingin teronggok di gallery instagram saya kini bisa dimiliki dalam bentuk produk-produk ciamik di Printerous

Silakan berkunjung dan berbelanja di www.printerous.com/lugugumilar

Terima kasih, kembaliannya tidak perlu disumbangkan dan silakan datang kembali!

Membuka Akhir Tahun

Halo.

Setelah tulisan di awal tahun ini yang sedikit ngawur, akhirnya saya menulis lagi. Kali ini lebih ngawur. Bagaimana tidak, kebiasaan menulis caption di instagram yang tak perlu terlalu panjang membuat kemampuan menulis saya menurun. Tapi kemampuan ngawur saya makin meningkat.

Oke, sedikit bercerita tentang roda kehidupan di tahun 2015 ini, ada beberapa poin besar yang sedikit kecil. Tuh, kan ngawur.

Dengan backsound "Wherever I May Roam" dari Metallica, awal tahun 2015 saya dengan seru meninggalkan tempat tinggal, kos yang nyaman dan pindah ke ruko dimana Helmen Coffee saya dan teman-teman dirikan. Renovasi dimulai. Demi segala kecintaan saya terhadap kuas dan cat, saya mengecat tembok, mendesain interior bareng teman-teman, sampai adu kepala bersama. Sungguh drama komedi yang tak layak dijadikan film. Namun ajaibnya, kami tidak lupa main gitar dan menyanyi bersama-sama. Demi segala cinta yang saya tanamkan untuk kopi, 24 jam saya berisi segala hal tentang kopi. Di sini tidur pun, aroma kopi sisa roasting semalam masih tercium.

Dalam desain, penekanan terhadap proses memang jadi poin paling penting. Tapi dalam pengembangan bisnis, proses yang terlalu lama jadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Helmen Kopi baru resmi dibuka di awal bulan Juni, berbulan-bulan semenjak persiapan-persiapan yang seru tadi. Dibuka dengan ceria meski bumbu drama tetap ada. Cerita lengkapnya akan saya bagi tahun depan. Kalau ingat.

Yang jelas, setelah sekian lama baru berjalan, saya harus kembali membagi waktu dan menata hidup lagi. 24 jam saya akhirnya terbagi lagi, dan saya harus rela tidak tidur dengan aroma kopi. 

Soal berkarya, silakan mampir ke instagram atau behance saya saja. Ada beberapa yang tidak saya publikasikan online seperti beberapa poster untuk Navicula, dan juga PPLH Bali. Ada pula yang masih dalam tahap pengembangan untuk dirilis awal tahun ini.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya enggan bicara soal resolusi. Rencana hanyalah rencana, tinggal bagaimana kita mewujudkannya secara nyata bukan sekedar wacana. 

Sala\m/